Mengkudu, si Buah Kehidupan

06 Dec, 2016 Hits: 589

Mengkudu, mempunyai nama lain Bakudu, Bangkudu (Batak), Bengkudu (Melayu), Bingkudu (Minangkabau), Keumeude (Aceh), Pace, Kemudu, Kudu (Jawa), Cangkudu (Sunda), Kodhuk (Madura), Tibah, Wangkudu (Bali), Labanau (Dayak), Mekudu (Lampung), Noni (Hawaii), Indian Mulberry (Inggris).

Meski buahnya memi­liki aroma dan rasa tidak sedap, pohon mengudu banyak ditanam di pekarangan-pekarangan rumah. Masyarakat per­caya buah ini berkhasiat baik untuk kesehatan dan pengobatan, karena sudah dibuktikan secara turun temurun.

Mengkudu memiliki nama ilmiah Morinda citri­folia dan tergolong dalam keluarga Rubiaceae. Pohon mengkudu tingginya men­capai 3 - 8 meter. Buahnya dilindungi kulit yang bertekstur seperti berbintik-bintik. Buah mengkudu muda berwarna hijau, menjelang masak menjadi putih kekuningan. Setelah matang, warnanya menjadi putih transparan dan lunak. Daging buah mengkudu banyak mengandung air dan beraroma seperti keju busuk.

Mengkudu dipercaya berasal dari Asia Tenggara kemudian menyebar hampir ke seluruh wilayah tropis dan dikonsumsi di seluruh kepulauan Pasifik, Australia, juga di India. Dokumentasi tertulis menunjukkan buah mengkudu sudah dikonsumsi sebelum abad keduabelas, terutama oleh bangsa-bangsa Polinesia yang mendiami pulau-pulau di Samudera Pasifik dari Hawaii sampai ke Pulau Paskah dan Selandia Baru. Sejak dibawa masuk orang-orang Asia Tenggara berabad-abad lalu, mengkudu menjadi sumber pangan dan obat tradisional yang penting bagi bangsa Polinesia, sehingga dijuluki ‘Buah Kehidu­pan’.

Masyarakat di berbagai tempat sudah lama meman­faatkan mengkudu sebagai obat tradisional untuk mengatasi berbagai penyakit. Karena itu, pemanfaatan­nya di berbagai tempat sangatlah beragam. Di Kepulauan Karibia, pohon mengkudu disebut sebagai pohon pereda nyeri. Di Filipina mengkudu dipercaya bisa membersih­kan usus dan menghindarkan infeksi pada saluran cerna. Sebagian masyarakat Malaysia menggunakan mengkudu untuk mengatasi gangguan saluran kemih, diabetes, batuk dan pendarahan. Di Indonesia, masyarakat Aceh menggu­nakan buah mengkudu untuk dibuat sayur dan rujak. Karena itu, mengkudu sering ditanam di dekat rumah di pede­saan di Aceh. Selain itu meng­kudu juga sering digunakan sebagai bahan obat-obatan, dan untuk menjaga stamina.

Seluruh bagian tanaman mengkudu seperti batang, buah, dan daunnya memiliki khasiat tersendiri. Daging buah mengkudu mengandung protein, flavonoid, polisakarida, skopoletin, asam askorbat, beta karoten, l-arginin, prokseronin, prokseroninase dan xeronine. Berbagai macam zat tersebut sangat dibutuhkan tubuh misalnya flavonoid dan asam askorbat (Vitamin C) yang mengandung antioksidan dan membantu mencegah kanker.

Prof. Dr. Sumali Wiyowidagdo, Guru Besar Fakultas Farmasi Univer­sitas Indonesia yang me­neliti mengkudu mengatakan bahwa dari sekian banyak zat yang terkandung di dalam mengkudu, yang paling unik adalah xeronine dan prokse­ronine. Menurutnya, xeronine di dalam buah mengkudu ini jumlahnya cukup sedikit. Akan tetapi jika orang makan mengkudu, di ususnya akan ditemukan xeronine dalam jumlah banyak. Xeronine ini, menurut Prof Sumali seperti dikutip Herbalplus, memiliki banyak khasiat. Antara lain menurunkan tekanan darah dan sebagai antidabetes.

Banyaknya klaim dan bukti secara empiris bahwa mengkudu mampu mengatasi penyakit tentunya mem­buat banyak peneliti ingin membuk­tikannya secara ilmiah. Berikut ini beberapa penelitian ilmiah terhadap buah mengkudu.

Menurunkan Kadar Gula Darah dan Tekanan Darah, Mengkudu memiliki efek antihipertensi dan antidiabetes, yang telah terbukti. Prof. Dr. Sumali Wiryowidagdo (2004) melakukan penelitian khasiat kapsul ekstrak mengkudu ber­sama tim peneliti Pusat Studi Obat Bahan Alam (PS-OBA) Departemen Farmasi Universitas Indonesia. Penelitian praklinik tersebut membuktikan bahwa mengkudu mampu menurunkan tekanan darah tinggi, dan men­stabilkan gula darah. Selain itu ekstrak mengkudu juga aman digunakan sebagai obat diabetes tipe II karena sudah melalui uji toksisitas.

Pereda Nyeri, Secara turun temurun, mengkudu sudah dibuk­tikan mampu meredakan rasa nyeri, termasuk nyeri haid dan rasa sakit karena berbagai penyebab lain­nya. Di Kepulauan Karibia, pohon mengkudu dijuluki sebagai pohon pereda nyeri karena khasiat tersebut. Berbagai studi yang di­lakukan membuktikan efek analgesik (meredakan nyeri) dan sedatif (menenang­kan). Salah satunya, peneliti Prancis Chafique Younos dan kawan-kawan, yang dipublikasikan pada jurnal Planta Medica (1990). Mereka menggunakan ekstrak mengkudu yang sebelumnya telah melalui uji toksisitas dan terbukti aman.

Efek Antibakteri, Berbagai penelitian membuktikan bahwa mengkudu memiliki potensi antibakteri. Ada beberapa kandungan di dalam mengkudu yang memiliki efek antibak­teri yang bisa meng­hambat pertumbuhan bakteri. Efek antibakteri yang kuat membuat mengkudu diteliti un­tuk digunakan melawan penyakit bakterial yang bandel seperti tuberku­losis (TB).

Peningkat Sistem Kekebalan Tubuh, Mengkudu juga sudah lama digunakan sebagai obat tradisional untuk meningkat­kan sistem kekebalan tubuh. Peneliti Fakultas Farmasi UGM, Prof. Dr. EdiatiSasmito, S.E. Apt bersama timnya tengah mengembang­kan mengkudu sebagai ba­han obat peningkatan sistem kekebalan tubuh.

Kandungan polisakarida di dalam mengkudu bisa di­manfaatkan sebagai immu­nostimulator untuk mem­bantu menormalkan sistem imun agar tidak terlalu ren­dah dan tidak terlalu tinggi. Karena sistem imun yang terlalu tinggi akan memicu alergi, sedangkan kadar imun rendah akan rentan terhadap infeksi.

Sumber :  The Best Herbs of Natural Healing